Komite MAN 2 Lubuklinggau Berikan Dispensasi Untuk Murid Yang Kurang Mampu

LUBUKLINGGAU, BS –  Menyikapi hasil rapat Komite sekolah dengan wali murid di MAN 2 Kota Lubuklinggau pada Selasa, 12 September 2003 lalu yang kesimpulannya memungut sumbangan 500.000 persiswa.

Sempat dipertanyakan oleh beberapa wali murid.

Menurut J (nama disamarkan. Red)  salah seorang wali murid yang ikut dalam pertemuan tersebut. Menyampaikan bahwa dirinya sudah nyatakan keberatan atas adanya pungutan tersebut, begitu juga beberapa wali murid lainnya.

” Jujur,  pada waktu rapat kami sudah menyampaikan keberatan adanya pungutan sebesar Rp500.000 tersebut.  Namun pada kesimpulannya memutuskan biaya sumbangan sebesar itu ”  ujar J.

Beberapa hal yang menjadi keberatan dari para orang tua murid terutama karena besarnya biaya pungutan tersebut. Dan peruntukannya adalah untuk membangun fisik sekolah,  bukan untuk keperluan yang menyangkut proses belajar mengajar.

Diantaranya pembuatan papan nama, gapura, papan nama ekskul, serta merenovasi dan membuat WC siswa.

Keberatan dari wali murid ini bukan tidak beralasan karena untuk hal seperti itu sudah dianggarkan dari dana BOS.

” Siswa di Man 2 ini lebih dari 1000 orang,  berarti dana BOS nya cukupo besar. 
Selain itu pihak sekolah tentu dapat mengusulkan ke pemerintah,  apakah melalui dana DAK dan Anggaran lainnya.
Sementara jika dipungut 500.000 per siswa bisa dihitung berapa jumlahnya.  Dan lagi termasuk siswa kelas 11 dan 12 juga dipungut sumbangan padahal mereka sebentar lagi tamat ” demikian keluhnya.

Ketika media ini mempertanyakan hal tersebut kepada DPRD Kota Lubuklinggau yang dalam hal ini diwakili oleh Wakil Ketua DPRD Hambali Lukman SH.
Pihaknya menyampaikan bahwa sekolah maupun Komite harus merujuk kepada aturan yang ada.

” Soekolah melalui komite tidak boleh memaksakan besaran sumbangan kepada para wali murid, karena tidak semua wali murid tersebut orang yang berkecukupan. Sedangkan dasar sumbangan adalah ke sukarela-an. Mungkin saja kalau wali murid yang mampu akan menyumbang lebih besar dan untuk yang kurang mampu mungkin disesuaikan. Bahkan untuk yang tidak mampu tidak dipungut biaya sama sekali.  Apalagi sekolah bukan swasta seperti Man 2 ini. Tentunya biaya pembangunan fisik sekolah akan dianggarkan oleh negara baik itu APBN maupun APBD ”  tegas Hambali yang merupakan ketua DPC PDIP Kota Lubuklinggau ini.

Saat media ini melakukan konfirmasi, menemui Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Lubuklinggau Dra. Hasnarita MPd pada hari Sabtu (16 /9/2023) yang bersangkutan sedang dinas luar, Dan diterima oleh wakil kepala sekolah bidang humas Ali Imron S.Ag.

Selanjutnya pihak sekolah merekomendasikan untuk koordinasi dengan Komite Sekolah.

Ditemui di ruang kerjanya di STAI Bumi Silampari Lubuklinggau, Ngimaduddin, SAg. MH  selaku Pengurus Komite menyampaikan Klarifikasinya terkait masalah Dana Sumbangan Komite tersebut.

Berikut klarifikasi dari Ngimaduddin,SAg.MH Pengurus Komite Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Lubuklinggau  :

” Sumbangan tersebut tidak ada kaitannya dengan pihak sekolah dan murni merupakan upaya dari pihak komite sekolah yang tujuannya untuk kemajuan sekolah itu sendiri.

Terkait hasil rapat,  sebelumnya rapat sudah menyampaikan bahwa tidak dipaksakan bagi yang berkeberatan. Dan silahkan sampaikan keberatannya itu ke komite. Dan pihaknya akan memberikan dispensasi bagi murid yang kurang mampu. Dan Komite akan menerima masukan data dari pihak sekolah terkait hal tersebut . Terutama siswa yang merupakan penerima KIP, PKH BLT atau ada keterangan tidak mampu dari RT atau Lurah.

Sedangkan yang menjadi dasar penetapan biaya adalah berasal dari proposal yang diajukan oleh pihak sekolah kepada Komite.

Adapun tujuan dari sumbangan tersebut guna memenuhi kebutuhan sekolah . Saat ini WC yang ada memang tidak memadai dibandingkan jumlah siswa. yang ribuan tersebut.

Di samping itu hal tersebut diperlukan untuk memenuhi syarat akreditasi sekolah guna mencapai akreditasi A.

Demikian klarifikasi yang disampaikan oleh pihak Komite MAN 2 Lubuklinggau ****
(F4L)

Array
Related posts